Minggu, 20 Mei 2018
Mendidik Anak Dengan Bahagia
GadianaBungaVita,ST
@kulWAgroup info muslimah jember
www.infomuslimahjember.com
***
Memiliki anak adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu oleh pasangan yang telah menikah. Setelah memiliki bayi mungil dan lucu kebahagiaan keluarga kecil kita semakin bertambah, tetapi akankah kebahagiaan ini akan terus terasa hingga mereka bertambah besar?
1. Anak sebagai harapan karena anak adalah rizqi bagi orang tuanya. Sehingga kelahiran anak merupakan salah satu harapan pasangan yang sudah menikah.
2. Anak sebagai Penyenang Hati, karena melihat kelucuan mereka, perilaku mereka, bahkan hanya dengan melihat wajah polos mereka akan membuat orang tua merasa senang, bahkan selelah apapun orang tua ketika melihat wajah anak2nya membuat rasa lelah itu.
Selain itu anak adalah salah satu harapan orang tua, sebagai penyelamat di akhirat. Tetapi yang perlu ditekankan disini adalah Anak Sholih/ah lah yg akan menjadi harapan orang tua di akhirat kelak.
Faktanya tidak sedikit orang tua yang merasa tak lagi bahagia ketika mendidik anak-anak mereka.
Bahkan salah satu survey yang paling hits yang pernah dilakukan adalah Survey Gallup yang diadakan terhadap 60.000 perempuan, pada tahun 2012 lalu.
Survey tersebut menjadi terkenal, karena isinya yang mengejutkan. Menurut survey tersebut, secara rata-rata, ibu rumah tangga lebih rentan stres (yaitu ibu tak bekerja yang punya anak <18 tahun) mengalami tingkat rasa sedih, stres, marah, serta depresi lebih tinggi dibandingkan perempuan bekerja.
Dari hasil survey Gallup di atas, menunjukkan bahwa orang tua bekerja tingkat stressnya lebih rendah dibandingkan full mom (Ibu Rumah Tangga).
Mengapa Hal itu bisa terjadi?
tidak lain karena cara pandang seorang Ibu tentang makna bahagia
Apakah makna bahagia menurut bunda-bunda Sholihah adalah ketika bisa memberikan kasih sayang berupa materi? membelikan mainan yang mahal dan brand terkenal, atau bisa memenuhi semua keinginan buah hati kita?
Jika jawabannya IYA, maka suatu yang wajar ketika melihat hasil survey gallup di atas.
Seorang ibu yang bekerja di luar rumah lebih bahagia dan tingkat stress nya lebih rendah dibandingkan dengan full mom.
Ataukah bunda-bunda sholihah mempunyai pemahaman bahwa makna Bahagia adalah ketika apa yang Bunda lakukan mendapatkan ridho Allah SWT?
Kenapa Ibu rumah tangga merasa lebih stress?
Bisa jadi karena karena mempunyai standar kebahagiaan berupa materi, sehingga ketika harus mengurus anak membuat para Ibu menjadi jenuh dalam mendidik anak
Kenapa demikian? Karena Ibu merasa mendidik anak tidak menghasilkan. Bandingkan dengan bekerja.. dengan bekerja Ibu bisa mendapatkan uang, banyak kenalan, jalan-jalan.. dll
Tetapi akan berbeda ketika seorang Ibu merasa bahwa kebahagiaan adalah karena Ridho Allah SWT.
karena Ibu mengetahui ketika mendidik anak dengan mengharap Ridho Allah, akan menjadi investasi kehidupan di akhirat.
kenapa berfikir untuk investasi akhirat? KArena Ibu sadar bahwa kehidupan di dunia itu hanya senda gurau belaka, sedangkan kehidupan di akhirat itu lebih baik daripada kehidupan di dunia.
Oleh karena itu, maka sebagai Ibu harus memahami bagaimana ISlam memuliakan IBU, bahkan Rasulullah SAW meninggikan derajat Ibu 3 tingkat dibandingkan Ayah.
Dan satu lagi kemuliaan seorang IBU bahwa Do'anya akan dikabulkan oleh Allah.....
Karena begitu Mulianya menjadi seorang Ibu.
Sehingga ketika seorang ibu memahami ini semua, tidak akan lagi merasa bahwa menjadi Full Mom adalah sesuatu yang sangat membosankan dan membuat tingkat stress menjadi tinggi.
Selain itu seorang Ibu juga harus memahami apa tujuan mendidik anak dalam Islam
Yang Pertama memahami bahwa tujuan mendidik anak adalah menjadikan mereka sebagai Hamba Allah yang taat, tunduk, dan patuh hanya kepada Allah.
Mendidik anak tidak hanya berupaya untuk menjadikan mereka anak yg berprestasi dalam kehidupan dunia saja
Yang kedua membentuk anak-anak menjadi calon pemimpin Kaliber Dunia
Bagaimana caranya?
Yaitu dengan memahami potensi anak yang telah Allah berikan
1. Potensi akal
Allah memberikan akal pada manusia agar bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar
2. Kebutuhan Jasmani
Kebutuhan yang rangsangannya berasal dari dalam tubuh, dan wajib untuk dipenuhi. Karena jika tidak akan menimbulkan kematian. Contoh : makan, minum, istirahat, dll
3. Kebutuhan Naluri
kebutuhan yang rangsangannya dari luar, dan tidak harus dipenuhi, karena tidak akan menimbulkan kematian jika tak terpenuhi.
a. Naluri Tadayyun : kecenderungan dalam beragama
b. Naluri Nau' : kecenderungan untuk memberikan kasih sayang, dan melestarikan keturunan
c. Naluri BAqo': kecenderungan untuk mempertahankan diri, atau menunjukkan eksistensi diri.
dengan memahami potensi anak, maka Ibu akan bisa memenuhi kebutuhannya sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
contoh : Ibu bs membedakan tangisan anak karena lapar, haus, takut, ingin diperhatikan, atau karena merasa dirinya tidak dipedulikan
karena penanganannya akan berbeda.
Dan Bunda juga harus memahami bagaimana tahapan Usia anak, sehingga penyelesaian terhadap masalah akan tepat.
Secara biologis, fase pertumbuhan seorang manusia telah digambarkan oleh Allah di dalam Alquran, yaitu dalam surat Al-Mu’min ayat 67 :
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya.”
Dari penjelasan ayat diatas bahwa proses kejadian individu mengalami tahapan dan dinamika sejak dalam kandungan hingga lahir. Seorang individu tumbuh menjadi anak, dewasa, tua. Dan Alquran menegaskan bahwa ada yang diwafatkan sebelum seorang individu berubah kepada fase perkembangan selanjutnya. Namun inti dari ayat ini adalah bahwa seorang manusia, pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.
Jika kita membahas Fase pertumbuhan di masa kanak-kanak hingga baligh, maka Islam telah menetapkan masa kanak-kanak ini menjadi beberapa fase :
• Masa bayi (0 hingga 2 tahun)
• Masa anak-anak (2-7 tahun atau disebut dengan fase thufulah)
• Masa Tamyiz (7-10 tahun)
• Masa Amrad (10-15 tahun)
• Masa Taklif (15-18 tahun) --- dewasa
Ini gambaran umumnya. Usia tidak bisa dipatok. Karena sekarang banyak yang mengalami fase baligh di usia 10-15. Jika diringkas lagi, fase perkembangan anak itu ada
(1) fase pra tamyiz
(2) fase tamyiz
(3) fase baligh
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar